Meningkatkan Pemberdayaan Dengan Wacana Saling Membutuhkan

July 25, 2012 Add Comment

Cara Meningkatkan Pemberdayaan Dengan Wacana Saling Membutuhkan : Pemberdayaan ::: Adalah hal luar biasa yang menjadi biasa bila seorang walikota menjadi tokoh sentral dalam sebuah acara peresmian.




Kita patut berbangga bahwa sejumlah kegiatan PNPM-Perkotaan melalui upaya dan kerja keras BKM di Kota Bengkulu seperti halnya Posyandu di Kelurahan Dampingan Tim 5 (BKM Kelurahan Tengah Padang) dan kegiatan lainnya mendapat apresiasi dari pejabat teras Pemerintahan Daerah Kota Bengkulu. Demikian pula yang terjadi ketika Walikota Bengkulu Drs. H.Ahmad Kanedi, SH,MH, atau lebih akrab disapa Bang Ken meresmikan Puskeskel RT 9 Kelurahan Pekan Sabtu.


    Pada acara yang digelar Senin, 17 Juli 2012 di areal Poskeskel RT 9, turut hadir sejumlah tokoh Pemerintahan Kota Bengkulu, diantaranya Sekda Kota dan Kepala Dinas Depag Kota, serta aparat penting lainnya, termasuk dari Kecamatan Selebar, Polsek Selebar dan Koramil Selebar. Kegiatan ini semakin memiliki makna bagi segenap warga RT 9 dan Kelurahan Pekan Sabtu karena adanya kegiatan KB gratis dari BKKBN, berobat gratis dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan, kegiatan donor darah PMI berhadiah paket bingkisan dari Honda karena bekerja sama dengan FIF yang juga turut berpartisipasi, sehingga dalam satu hari tersebut kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan seolah-olah terpenuhi setelah sekian lama menunggu realisasi yang tiap tahun diusulkan melalui Renta Kelurahan dan Renta Kecamatan sebagai bagian rencana kerja Bappeda dan Pemerintah Kota namun belum pernah diwujudkan.
 
       Adalah bidan Eva yang mengusulkan adanya pos khusus permanen di RT 9. Perlu diketahui bahwa lokasi RT 9 adalah areal perkebunan sawit yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Sukarami, di mana warganya tinggal di dalam pelosok areal perkebunan tersebut. Selama ini bidan Eva melakukan aktivitas pemeriksaan kesehatan ibu dan anak di sebuah warung berwujud gubuk seadanya yang terbuat dari bahan kayu dan atap rumbia. Bidan Eva adalah warga RT 11 Kelurahan Pekan Sabtu yang melakukan aktivitas pemeriksaan kesehatan rutin 2-3 kali seminggu, dan telah beberapa kali mengusulkan pos permanen pemeriksaan kesehatan di RT 9 melalui Kelurahan dan bahkan melalui Dinas Kesehatan, namun belum mendapat tanggapan yang benar-benar bisa memenuhi kebutuhan warga RT 9.

     Kesulitan warga RT 9 adalah karena jarak tempuh mereka yang jauh dari Puskesmas Kelurahan Pekan Sabtu, dan bahkan mereka lebih banyak berobat ke Puskesmas Betungan. Ketua RT 9 yang juga menjadi Ketua Panitia Penyambutan yang ditunjuk oleh Kelurahan dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa dengan adanya pos ini, diharapkan dapat meminimalisir biaya transportasi dan juga mempercepat waktu dalam proses tindakan kesehatan kepada warga yang bermasalah dengan kesehatan.

     Poin penting yang menjadi sorotan adalah peranan Bapak Suparmin, warga RT 9 yang mengikhlaskan tanahnya untuk dijadikan tempat pendirian pos. Bukan hanya itu, beliau juga menghibahkan 1 kapling tanah miliknya untuk dijadikan tempat pembangunan mesjid, karena di daerah itu tidak ada tempat ibadah. Kurang lebih 90 KK warga beribadah ke tempat yang lebih jauh, yaitu ke pusat Kelurahan Pekan Sabtu, Kelurahan Betungan bahkan Kelurahan Sukarami. 

       Maka, wacana saling membutuhkan antar pihak di RT 9 menjadi isu positif yang dapat dijadikan contoh bagi warga kelurahan lain yang melakukan kegiatan yang sama. Warga RT 9 membutuhkan pos kesehatan yang layak sebagai tempat mereka mendapatkan perlakuan dan tindakan kesehatan, Bidan Eva membutuhkan tempat yang layak sebagai tempatnya melakukan aktivitas pemeriksaan terhadap warga, Pihak Kelurahan dan warga Pekan Sabtu umumnya membutuhkan keduanya dalam rangka memfasilitasi pembangunan Kelurahan yang kondusif dan layak sebagai bagian dari lingkungan mereka, dan BKM Kelurahan Pekan Sabtu mengakomodir kebutuhan tersebut sebagai pemegang peranan dalam realisasinya. Artinya, kerja sama antara warga, pihak kesehatan dan pemerintahan setempat berjalan sesuai dengan koridornya. Dengan dana BLM I 2012 sebesar Rp 20.000.000,- dan pemanfaat langsung (warga PS dan warga non PS 2) lebih dari 90 KK warga RT 9, ditambah warga Kelurahan Pekan Sabtu yang berbatasan dengan RT 9, demikian pula warga Kelurahan Sukarami yang berbatasan dengan RT 9, hadirnya pos ini menjadi sangat penting dalam menanggulangi masalah kesehatan, kesehatan ibu hamil, kesehatan ibu dan anak, dan juga menanggulangi masalah pengeluaran keluarga, seperti yang tercantum dalam tujuan MDG’s. 

      Salah satu wujud dorongan kerja sama lintas kelurahan dan lintas BKM yaitu hadirnya sejumlah Kepala Kelurahan di Kecamatan Selebar, seperti Karnadi S.Sos, dari Pagar Dewa, Saipul Anwar S.Sos, dari Sukarami, dan lainnya. BKM Pekan Sabtu juga diberikan kepercayaan oleh pihak Kelurahan untuk mengundang BKM lain di Tim 3, sehingga hadir pula perwakilan BKM Kelurahan Betungan yaitu Ibu Diana, Susilawati, Nyimas Atika dan Mik Gustina. BKM Kelurahan Pagar Dewa yaitu Bapak Sirat Iskandar, BKM Kelurahan Jalan Gedang Bapak Mardan Siregar, BKM Kelurahan Dusun Besar yaitu Ibu Sustrawati dan Bapak Budiarto. Beberapa BKM lain tidak dapat menghadiri acara karena beragam kesibukan. Terlepas dari itu, BKM Kelurahan Pekan Sabtu ingin menunjukkan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan multi dukungan, tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Bagaimana Bapak Suparmin dengan ikhlas merelakan tanahnya dihibahkan sebagai tempat berdirinya pos kesehatan tidak lepas dari upaya pemberdayaan dan dorongan kerelawanan BKM Pekan Sabtu melalui Lurah Kelurahan Pekan Sabtu, Bapak Sukamto. Hadirnya pengurus BKM Kelurahan lain juga menunjukkan bahwa mereka mendukung kegiatan positif di Pekan Sabtu, dan bagi mereka momen ini menjadi pengalaman berharga yang bisa diaplikasikan di kelurahan masing-masing. Bahwa kreatifitas dan inovasi tidak bisa dipenjarakan oleh selembar kertas berwujud RAB, namun bagaimana caranya agar RAB bisa mengakomodasi kebutuhan itu akan lebih baik (analogi yang disampaikan oleh Bapak Sahbandar BKM Pekan Sabtu dan Bapak Mardan Siregar dari BKM Jalan Gedang).

      Dalam kata sambutannya, Lurah Pekan Sabtu Bapak Sukamto menyampaikan apresiasinya atas kerja sama antar pihak yang berada di Pekan Sabtu. Kerja sama seperti ini diharapkan tidak berhenti sampai di sini. Berdirinya pos kesehatan ini hanyalah awal dari tonggak kebersamaan, namun bagaimana pos ini berikut petugas di dalamnya bisa diberdayakan dan melayani kebutuhan masyarakat merupakan hal lain yang sangat penting. Hal ini berkaitan dengan fasilitas pelayanan, yang tentu saja membutuhkan dana dan perhatian yang tidak sedikit. Dengan spontan beliau meminta rencana kebutuhan yang sudah disiapkan oleh Bapak Sahbandar selaku Koordinator kolektif BKM Pekan Sabtu dan menyerahkannya langsung ke Bapak Walikota. Inti yang sama juga disampaikan oleh Korkot PNPM-Perkotaan Kota Bengkulu Bapak Dediyanto, S.Pt, bahwa kerja sama ini membutuhkan perhatian dan biaya yang tidak sedikit, khususnya perhatian dari Pemerintah terhadap penyediaan fasilitas dan perhatian dari masyarakat dalam menjaga sarana dan prasarana yang sudah ada dan akan dilaksanakan lagi di Kelurahan Pekan Sabtu dan seluruh kelurahan Kota Bengkulu. Tahun 2021 diharapkan Pemerintah Kota Bengkulu bisa menjaga komitmennya dalam mengucurkan dana pembangunan pro masyarakat kurang mampu.

         Pada dasarnya, cara mendorong semangat kerelawanan dalam hubungannya dengan pemberdayaan dapat dilakukan dengan kerja sama yang menguntungkan karena saling membutuhkan, bukan kerja sama yang membutuhkan karena adanya keuntungan (salah tidaknya kalimat ini silahkan dianalisa sendiri). Namun program dan kegiatan yang membutuhkan multi dukungan haruslah diawali dengan keterbukaan hati dan pikiran, bahwa semuanya tidak akan terlaksana bila semua pihak tidak saling mendukung. Semoga sosok dan peran Bapak Suparmin bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua, dan bagaimana Lurah Pekan Sabtu bersama dengan BKM Pekan Sabtu tidak berhenti berupaya dalam mendorong pemberdayaan agar lebih memiliki arti dan manfaat bagi masyarakat di Kelurahan Pekan Sabtu juga pantas untuk diberikan apresiasi. 

disampaikan sebagai Best Practice Tim 3 



 

INFORMASI SEPUTAR PEMBERDYAAN TIM 3 DI BLOG

MEDIA INFO 

Mendorong Pemberdayaan Sejalan Dengan Aspek Proyek

July 25, 2012 Add Comment
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Menurut Robinson (1994), pemberdayaan adalah sebuah proses pribadi dan sosial, suatu bentuk pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak.


Bila mengacu pada konsep ini, pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu proses pengembangan diri pribadi dalam lingkungan sosial, demikian pula dengan lingkungan sosial itu, sehingga individu dan kelompok-kelompok sosial serta ragam interaksi dan dinamika didalamnya yang membentuk sebuah masyarakat dengan karakternya, dapat memiliki peningkatan baik dari cara berpikir, cara bertindak, cara berkomunikasi dan berinteraksi, demikian pula potensi yang dimiliki. Dengan demikian terjadi perubahan selama proses itu terjadi.



Mengapa harus mengambil teori dari Robinson ? Memang banyak pakar sosiologi dan pemberdayaan masyarakat yang menerapkan materi text book masing-masing dalam aplikasi di lapangan, namun paling tidak apa yang disampaikan oleh Robinson lebih mengena pada implementasi yang diterapkan di Tim 3. Mengapa demikian ? Karena, seperti yang pernah saya sampaikan dalam Pelatihan Dasar Fasilitator OC-2 Desember 2021 dan Pelatihan Penguatan Fasilitator Juni 2012 bahwa pendekatan sosial tergantung dari dinamika setempat, sehingga dibutuhkan waktu yang tidak sama dalam hubungannya dengan orientasi target. Bila penentuan target terhadap semua tempat disamakan, maka output yang diharapkan akan sama kejadiannya dengan program-program pemberdayaan yang sudah-sudah yang pernah dilakukan oleh baik pemerintah maupun lembaga pemberdayaan sebelumnya.

Pemberdayaan sebenarnya memiliki banyak metode, dan Tim 3 mencoba menemukenali serta melakukan review terhadap sejumlah metode, baik yang pernah dan sedang dilakukan oleh Tim 3 sendiri atau lembaga-lembaga pemberdayaan sebelumnya, maupun yang belum sempat atau bahkan tidak pernah dimunculkan di lapangan. Melihat kondisi masyarakat dan dinamika di dalamnya, ragam metode tadi sangat penting dilakukan dengan fleksibel, karena satu hal yang patut kita pertimbangkan adalah kita tidak bisa memaksakan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang diinginkan, walaupun sebenarnya kita berharap segala sesuatunya dapat berjalan dan terlaksana seperti yang diinginkan.

Bahasa menemukenali dan melakukan review terkesan teoritis dan seolah formal, namun bahasa itu perlu ditekankan meskipun pelaksanaannya di lapangan belum tentu seperti itu. Mengapa demikian ? Karena pada dasarnya dinamika itu tidak konstan, selalu berubah-ubah, dan berjalan seiring keadaan. Artinya, dengan menemukenali dan review metoda, penerapannya dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan program, sehingga dengan demikian diharapakan dualisme aspek program yaitu sisi pemberdayaan dan proyek bisa sejalan.

Topik ini sengaja kami angkat sebagai best practice, sebagai tanggapan positif terhadap adanya opini yang tidak jelas sumbernya, yang menyatakan Tim 3 main terabas saja dalam penentuan kegiatan BLM. Hal ini juga menjadi bahan pertanyaan kami ke seluruh pengurus BKM dampingan Tim 3 dan beberapa KSM yang pernah dan sedang melaksanakan kegiatan sehubungan realisasi BLM I dan rencana realisasi BLM 2 2012. Ini jelas sangat penting bagi Tim 3, khususnya dalam hal memperbaiki kinerja dan juga mempererat hubungan dan kerja sama Tim 3 dengan BKM-KSM Kelurahan Dampingan Tim 3, demikian juga kerja sama lintas BKM di wilayah tugas Tim 3. 

Dalam sejumlah pertemuan dan proses pendampingan yang dilakukan oleh SF, Fasilitator CD dan Fasilitator Ekonomi Tim 3 baik dalam pembuatan proposal, pembuatan LPJ, penentuan lokasi kegiatan sesuai Bappuk Renta 2012 dan Renta PJM 2012-2021 dengan BKM-KSM maupun aparat kelurahan, kami dengan sengaja mengutarakan ini sebagai bahan percakapan non formal. Hal ini sengaja kami jadikan bahan obrolan atau diskusi non formal karena dengan situasi begini, pengurus BKM dan aparat kelurahan merasa lebih santai dan lebih terbuka dalam beropini dan menyampaikan pendapat.

Keterbukaan adalah salah satu kata kunci yang menjadi peranan penting dalam komunikasi pemberdayaan. Saya mengistilahkan komunikasi pemberdayaan karena menurut saya dan kami Tim 3 bahwa jenis komunikasi itu banyak, tergantung jenis, jenjang, wilayah dan pelaku komunikasi itu. Artinya, tidak ada kesan ketertutupan sebagaimana kebiasaan yang terjadi di lingkungan birokrasi. Apalagi bila interaksi vertikal atasan dan bawahan, pemerintah dan masyarakat, interaksi ini bahkan lebih birokratif. Bisa jadi pengurus BKM malah lebih sering menganggukkan kepala meng’iya’kan instruksi dan arahan daripada mengutarakan pandangan dan akhirnya malah melakukan kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan.

Sebagai contoh, dalam diskusi Tim 3 yang dilakukan Fasilitator CD, Fasiliator Ekonomi dan Senior Fasilitator dengan Koordinator BKM Gedang Bersatu Bapak Mardan Siregar dan Lurah Jalan Gedang Bapak Herzi mengenai program rehab rumah BSPS-Menpera tanggal 11 Juli 2012 lalu, dalam waktu 2 hari seluruh hal administratif harus selesai mengenai usulan penerima manfaat program rehab sampai tuntas di tahun 2012 ini. Secara prinsip organisasi, sudah jelas siapa pelaku di lapangan dan kepada siapa koordinasinya. Namun kesulitan waktu dan pelaksanaan input yang menjadi kendala utama mereka untuk dapat mengejar tenggat target yang diberikan oleh Bappeda Kota Bengkulu membuat Tim 3 membuka diri.  Dalam situasi itu, tercetus ide berbagi tugas dengan fasilitator. Bapak Lurah bersama-sama RT dan BKM turun langsung dalam update data dan foto, sedangkan input data dikerjakan bersama dengan fasilitator. Target akhirnya dapat dikejar dalam 2 hari setelah input data dilakukan dalam 1 malam dan 1 hari. 

Hal yang perlu disampaikan adalah, bahwa dengan keterbukaan dan kebersamaan segala hal bisa dilakukan dengan cepat dan mudah, tentunya dengan koridor yang telah ditentukan. KETERBUKAAN DAN KEBERSAMAAN BISA MEMINIMALISIR KENDALA LAPANGANKeluh kesah dan keterbukaan BKM serta Bapak Lurah dalam kondisi informal ternyata bisa diselesaikan secara bersama-sama bila keterbukaan itu disambut dengan keterbukaan pula.

Inovasi dan kreatifitas merupakan kata kunci lain dalam memaksimalkan pemberdayaan dalam hubungannya dengan orientasi target proyek. Sebagai contoh, berdasarkan hasil diskusi di lapangan dengan Bapak Budiarto selaku UPL BKM Danau Indah Kelurahan Dusun Besar, mereka berupaya kreatif dan inovatif dalam mengerjakan kegiatan rehab rumah BLM I 2012 meskipun detil-detil RAB sangat membatasi. Ada komponen-komponen yang sangat penting dalam pengerjaan rumah, baik dari sisi kualitas dan eksotisnya, namun ternyata tidak muncul dalam RAB.Untuk mengatasi itu, UPL dan KSM sepakat untuk menekankan pentingnya kemanfaatan yang berkualitas meskipun rincian dananya secara tertulis kemungkinan besar tidak bisa mengakomodir itu secara maksimal. Ternyata hal ini diberlakukan tidak hanya untuk kegiatan rehab rumah, namun seluruh kegiatan lain yang sedang berlangsung. PEMBERDAYAAN ITU MEMBUTUHKAN INOVASI DAN KREATIFITAS,TIDAK TERPENJARA DALAM KERTAS.


Kerja sama adalah bagian dari kebersamaan. Kerja sama adalah kata kunci selanjutnya dalam mendorong pemberdayaan. Dalam pendampingan pembuatan LPJ oleh Fasilitator CD, Fasilitator Ekonomi dan SF Sabtu 13 Juli 2012, tepatnya malam minggu di rumah saya, terungkap sejumlah informasi seputar BLM, kegiatan PNPM-Perkotaan maupun di luar itu. Pendampingan LPJ itu sebenarnya untuk mengakomodasi kebutuhan administrasi kegiatan BLM BKM Kelurahan Sukarami dan Pagar Dewa. Tapi siapa sangka BKM Kelurahan Dusun Besar dan Jalan Gedang juga ikut nimbrung . Adalah sebuah kebanggaan dan kesukaan tersendiri bagi saya ketika rumah dan sekaligus posko alternatif Tim 3 dikunjungi oleh tokoh-tokoh BKM, apalagi bila kunjungan itu tidak melulu mengenai pelaksanaan kegiatan, tapi justru mengungkapkan ide-ide dan terobosan yang lebih membangun. 

Dalam pertemuan informal itu disepakati secara lisan mengenai rencana kerja inovatif dan kreatif yang tentunya membutuhkan kerja sama. Bapak Mardan menawarkan gerobak KUGERBAS yang dibinanya kepada masyarakat di bawah lingkup BKM lain, dan disambut positif oleh BKM Sukarami, Pagar Dewa dan Dusun Besar. Mereka akan menindaklanjuti usulan itu dengan mengusulkan calon penerima manfaat tidak lagi melalui dana BLM, tapi langsung kepada KUGERBAS. BKM Kelurahan Dusun Besar menawarkan rencana Tabot Expo BKM Tim 3, dan juga disambut positif oleh yang lain. Melihat dinamika yang muncul, yang sebenarnya sudah kami rencanakan pada kegiatan-kegiatan sebelumnya, membuktikan bahwa sebenarnya BKM dan masyarakat di dalamnya membutuhkan terobosan dan lembaga yang mengcover mereka di seluruh aspek humanisme yang berhubungan dengan penanggulangan kemiskinan, atau lebih detil lagi yaitu menciptakan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan. 


Sekali lagi, KERJA SAMA YANG DINAMIS BISA MENDORONG PENINGKATAN MUTU PEMBERDAYAAN, tidak hanya kerja sama dalam lingkup BKM, tapi kerja sama antar BKM, BKM dengan fasilitator dan dalam tim fasilitator itu sendiri. Ini menjadi sebuah pembelajaran buat Tim 3 untuk saling menguatkan dan melapisi. Membiarkan anggota BKM berdaya dengan upaya sendiri tentunya bukan hal yang bijaksana, apalagi bila melepaskan BKM mengerjakan proposal dan progres LPJ dengan opini bahwa tugas fasilitator hanya sebatas job description saja, selesaikan tugas masing-masing (analogi dan persepsi yang disampaikan oleh Bapak Budiarto, sebagaimana mereka saling menguatkan dan melapisi) . Pemberdayaan ternyata tidak melulu hanya di kantor atau juga di sekretariat, tapi bisa di mana saja selama bisa memfasilitasi kebutuhan.

Mendorong kebersamaan itu susah-susah gampang. Tapi sebenarnya, bila ditanam dengan baik, mudah-mudahan yang dituai juga baik. Tergantung bagaimana setiap orang di dalamnya menanggapi dan menyikapinya. Ketidakbisaan untuk menerima orang lain, sebenarnya bisa diatasi dengan keberanian untuk terbuka, mau bekerja sama, berani membuka komunikasi dan mau mengatasi perbedaan yang ada. Bagaimana kita mengatasi itu, demikian pula kita menerapkannya di lapangan. 


Bapak Mardan dan Bapak Budiarto serta Bapak Jarunadi dalam diskusi ringan di posko alternatif Tim 3 menyatakan, tidak penting siapa yang melakukannya, tapi lebih penting bagaimana prosesnya dan apa manfaatnya bagi orang banyak.


disampaikan sebagai Best Practice Juli oleh Tim 3

ARTIKEL SEPUTAR PEMBERDAYAAN TIM 3 DI BLOG




Meningkatkan Kerelawanan Dengan Mendorong Inisiatif dan Kreatifitas

June 28, 2012 Add Comment
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Kerelawanan merupakan salah satu kata kunci dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini adalah PNPM-Mandiri Perkotaan. Hal inilah yang menjadi faktor penentu keberlangsungan program, mulai dari awal hingga akhir berjalannya program.


Dengan kata lain, di tengah dualisme aspek program yaitu aspek proyek maupun aspek pemberdayaan dengan berbagai stimulan di dalamnya, kerelawanan merupakan ujung tombak pemberdayaan itu sendiri, dan rasanya akan sangat berat bila faktor kerelawanan ini dipinggirkan begitu saja dalam segala jenis kegiatan kemasyarakatan.

Pada artikel ini tidak akan dibahas dengan detil mengenai contoh-contoh kerelawanan tersebut, karena lebih kepada wacana dan tawaran solusi alternatif. Pada artikel sebelumnya yaitu Pemberdayaan : Adakah Manfaat Pelatihan Sebagai Cara Meningkatkan Kapasitas Dalam Pemberdayaan Masyarakat telah disebutkan bahwa salah satu butir kendala atau sebut saja stagnannya peranan dan semangat pemberdayaan dalam lingkup PNPM-Mandiri Perkotaan adalah adanya kemunduran dalam hal kerelawanan. Dari hasil sejumlah diskusi dalam Pelatihan Penguatan Fasilitator OC-2 Propinsi Bengkulu, kemunduran atau berkurangnya semangat kerelawanan ini bisa saja disebabkan berbagai faktor, yang saya sebut seperti lingkaran setan, meskipun tidak semua masyarakat atau pelaku program kehilangan jiwa kerelawanan atau kepeduliannya, yang kemungkinan karena belum atau tidak terdeteksi sama sekali karena tidak pernah eksis ke permukaan, atau karena belum atau tidak tersosialisasi sama sekali kepada mereka, dimana peran ini pada konsepnya adalah peran milik LKM/BKM bersama-sama dengan aparatur kelurahan sebagai 'tuan rumah' masyarakat yang dimaksud.

Nah, mungkinkah ada yang salah dari ketidaktahuan, ketidakpahaman, ketidakeksisan itu dalam hubungannya dengan peranan kerelawanan ? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Namun pada dasarnya, hal tersebut mungkin dapat menjadi indikator bahwa untuk mencari dan menemukan relawan, serta menemukenali ulang kerelawanan berdasarkan aspek kondisi sosial dan dinamikanya, adalah sebuah pekerjaan yang berat bila tidak meletakkan keterlibatan kelompok-kelompok peduli didalamnya, dalam hal ini adalah LKM/BKM, aparat kelurahan, tokoh masyarakat dan kelompok-kelompok masyarkat dalam porsi dan prioritas yang besar. Apalagi bila tidak menyertakan komitmen, konsistensi, dan tanggung jawab yang proporsional sesuai dengan peranannya masing-masing. 

Sekedar mereview beberapa kegiatan yang dilakukan oleh TIM 03 Korkot Bengkulu yang biasanya dilakukan dengan pendekatan konvensional, yaitu pendekatan dengan komunikasi kekeluargaan, kekerabatan dan pertemanan, ternyata cara untuk meningkatkan kembali semangat kerelawanan itu bisa dilakukan bila ditambah bumbu inovasi dan kreatifitas, dengan cara mendorong masyarakat dalam hal ini adalah LKM/BKM untuk berani tampil dalam berbagai kegiatan, baik itu kegiatan 'kecil-kecilan' seperti pelatihan-pelatihan internal atau kelembagaan, diskusi-diskusi formal dan sejenisnya, maupun kegiatan skala regional atau nasional. Tim 03 sendiri pada akhir tahun 2021 sepakat mencanangkan tahun 2012 sebagai Tahun Terobosan Inovasi dan Kreativitas LKM/BKM (pencanangannya sih sebatas tim saja, namun sosialisasi dan aplikasi teknis di lapangan sarat dengan dorongan kreatif, dan secara implisit mendapat respon serius dari sejumlah LKM/BKM di wilayah TIM 03 sendiri meskipun tidak digembor-gemborkan secara 'wah'). 
Terobosan ini sebenarnya sangat sederhana, dimulai dari rapat keikutsertaan dalam event Pameran Seni dan Budaya Tabot Expo bulan November tahun 2021 lalu. Keberminatan dan ketertarikan itu sudah terlihat sejak Tim 03 menelurkan ide itu, dan secara spontan LKM/BKM menangkap isu itu secara positif dan langsung membentuk kepanitiaan. Keikutsertaan dan partisipasi di Tabot Expo itulah yang memunculkan ide-ide baru lainnya mengenai eksistensi masyarakat melalui LKM/BKM untuk mau tampil lebih berani, lebih inspiratif, lebih kreatif untuk even-event selanjutnya. 
Melalui sejumlah kegiatan yang sudah dilaksanakan berkaitan dengan partisipasi dan animo LKM/BKM serta masyrakat kelurahan dalam hal kerelawanan (Tabot Expo 2021, Pelatihan Fix Cost BKM-Relawan-Aparat Pemerintah di Wisma Loren, Rakor BKM 9 Kelurahan Dampingan Tim 03, Bengkulu Expo 2012, Arisan Bulanan dan Rakor Progres  9 BKM Dampingan), Tim 03  menangkap beberapa gejala, yaitu :
  • Cara meningkatkan animo dan semangat partisipasi dari LKM/BKM dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang komunikatif dan sarat dorongan kreatif dan inovatif yang bisa membuat  LKM/BKM dan masyarakat kelurahan bukan hanya sebagai objek, tapi juga subjek.
  • Bahwa sebenarnya penanggulangan kemiskinan ternyata tidak dapat diselesaikan hanya dengan produk-produk infrastruktur semata, namun juga kesempatan untuk memperoleh peningkatan kesejahteraan melalui kegiatan-kegiatan ekonomi produktif dan usaha kecil yang berimbang dan merata, serta kesempatan untuk bisa mendapatkan perlakuan dan penghargaan yang layak sehubungan dengan karya mereka, meskipun sangat sederhana.
  • LKM/BKM dan masyarakat kelurahan tidak hanya membutuhkan dana bantuan, tapi juga dukungan moril, fasilitas usaha, pengemasan dan pemasaran produk yang bisa mendorong peningkatan status sosial dan status ekonomi mereka. Sebagai contoh, pada even Tabot Expo 2021 dan Bengkulu Expo 2012, produk cemilan Peyek Pekan Sabtu dan Rengginang Danau Indah ternyata menjadi produk laris. Berkaca dari hal itu, para pelaku ekonomi dan usaha kecil bukan hanya sekedar membutuhkan dana bantuan untuk produksi, namun juga pangsa pasar. Artinya, dibutuhkan strategi bisnis yang bisa mengcover usaha kecil mereka untuk berani tampil.
  • LKM/BKM dan masyarakat kelurahan bisa menjadi satu potensi dan kesatuan yang kuat, bila metode pendekatan, penempatan posisi tawar, keterlibatan mereka secara aktif dan tujuan serta manfaat yang ditawarkan memang mengena pada kebutuhan masyarakat yang secara bersamaan juga dapat memenuhi keinginan-keinginan di dalamnya. Dengan kata lain, menempatkan mereka sebagai orang yang memiliki peranan dan tanggung jawab terhadap keberadaan orang lain bisa menjadikan mereka memiliki keterbebanan untuk melakukan yang terbaik. 
  • Bagaimana dengan point of interest dari masyarakat skeptis ? Kalo itu mah, gak usah repot mikirin, toh mereka juga belum tentu mau repot-repot mikirin sekelilingnya, tul gak ? Namun, yang pasti, ketika momen-momen keterlibatan pelaku aktif dan (yang) masih memiliki semangat kerelawanan berhasil dilewati dengan baik dan memiliki hasil yang positif, pada akhirnya kelompok masyarakat skeptis akan dapat menerima kondisi dan segera menyadari, bahwa ini semua tergantung dari perilaku masing-masing orang. 

Kadang kala, banyak orang hanya bisa menuntut namun belum tentu bisa memberikan. Dan kadang kala pula sejumlah orang selalu menempatkan dirinya sebagai orang yang paling pantas untuk mendapatkan perhatian yang lebih tanpa mau memperhatikan orang lain yang bisa jadi lebih pantas untuk menerimanya. Kadang kala banyak orang hanya mencibir ketika orang lain melakukan hal-hal kecil dan sederhana, namun kadang kala pula sejumlah orang dipaksa harus menerima kenyataan bahwa bahwa mereka adalah orang-orang yang justru pantas dikasihani karena tidak melakukan apa-apa selain mencibir.  Semoga review dan wacana ini bisa menjadi tawaran solusi cara meningkatkan kerelawanan di wilayah dampingan, sederhana namun inspiratif.


    Manfaat Pelatihan Upaya Meningkatkan Kapasitas Pemberdayaan

    June 19, 2012 Add Comment
    pemberdayaan masyarakat
    Adakah Manfaat Pelatihan Sebagai Cara Meningkatkan Kapasitas Dalam Pemberdayaan Masyarakat ? Ya, pertanyaan ini sangat krusial mengingat potensi, kualitas dan kapasitas dalam sejumlah kegiatan pendampingan untuk program pemberdayaan masyarakat.

    Sebagai program yang menggunakan metode pendampingan di lapangan terhadap segala aktivitas dan kegiatan masyarakat, baik yang berhubungan langsung dengan program, maupun sebagai efek samping program itu sendiri, pelatihan memiliki peranan penting, khususnya bagi pelaksana atau pelaku pendampingan dalam hal ini adalah fasilitator dan unsur-unsur organisasinya, maupun objek yang didampingi, dalam hal ini adalah masyarakat selaku penerima manfaat program.

    Sebelum kepada bahasan mengenai seberapa besar manfaat pelatihan terhadap pemberdayaan masyarakat, paling tidak kita bisa memahami terlebih dahulu konsep dasar pemberdayaan itu sendiri. Menurut Robinson (1994, seorang pakar ilmu sosial) seperti dikutip dari artikel terdahulu (Pemberdayaan : Cara Membuat Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Bentuk Fasilitasi Sosial Dalam Filosofinya), pemberdayaan adalah sebuah proses pribadi dan sosial, suatu bentuk pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak. Bila mengacu pada konsep ini, pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu proses pengembangan diri pribadi dalam lingkungan sosial, demikian pula dengan lingkungan sosial itu, sehingga individu dan kelompok-kelompok sosial serta ragam interaksi dan dinamika didalamnya yang membentuk sebuah masyarakat dengan karakternya, dapat memiliki peningkatan baik dari cara berpikir, cara bertindak, cara berkomunikasi dan berinteraksi, demikian pula potensi yang dimiliki. Dengan demikian terjadi perubahan selama proses itu terjadi.

    Dalam konteks PNPM-Mandiri Perkotaan, tujuan umum dari segala bentuk kegiatan pemberdayaan di dalamnya adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri (Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan, 2021). Tentu saja dalam menuju ke arah tersebut harus melakukan dan mempertimbangkan banyak hal, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan di lapangan. Hal-hal tersebut antara lain kapasitas pelaku pemberdayaan, yaitu fasilitator dan lembaganya, kelompok organisasi masyarakat yang dibentuk melalui prosedur PNPM-Mandiri Perkotaan, dan juga memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat itu sendiri sebagai cerminan dari karakter sosial. 

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan karakter dan dinamika sosial yang khas. Salah satunya adalah karena sangat dipengaruhi oleh akar budaya dan latar belakang setiap anggota masyarakat di dalamnya. Dalam artikel ini akan diambil lokasi sampel yaitu Kota Bengkulu. PNPM-Mandiri Perkotaan di Bengkulu sudah dimulai sejak tahun 2021-2021 yang lalu. Sebelum, atau bahkan pada saat program PNPM ini berjalan, tidak sedikit program lain baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun lembaga non pemerintah ikut berpartisipasi dalam rangka mencapai kesejahteraan sosial yang diinginkan. Di sini tidak akan dibahas lembaga apa saja, orientasi lembaga dan cara kerja lembaga tersebut, namun yang pasti program-program tersebut memiliki visi yang sama, yaitu bagaimana agar masyarakat Kota Bengkulu dapat mandiri, memiliki potensi dan kemandirian serta mampu sejahtera. Dan secara umum, program-program tersebut gagal dalam tujuannya, meskipun dalam perjalanannya sejumlah metode dan aspek-aspek pemberdayaan ada yang 'tertinggal' di masyarakat.

    Fenomena yang terjadi selama berjalannya program hingga saat ini, khususnya dalam lingkup PNPM-Mandiri Perkotaan, mengarah kepada dua pertanyaan umum. Benarkah metode dan aspek-aspek pemberdayaan yang telah dilakukan belum juga dapat meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat kelurahan di Kota Bengkulu, khususnya dalam lembaga LKM/BKM ? Benarkah kecenderungan ini disebabkan oleh masih lemahnya kapasitas pendampingan dan rendahnya kualitas pendamping/fasilitator ? 

    Dalam sejumlah kegiatan diskusi yang dilakukan selama kegiatan Pelatihan Penguatan Fasilitator PNPM-Mandiri Perkotaan beberapa waktu yang lalu, terdapat beberapa hal penting yang menjadi bahasan krusial yang tidak hanya melibatkan kapasitas fasilitator, namun juga melibatkan kapasitas organisasi LKM/BKM  dan kelompok masyarakat yang ada, dan juga peranan pihak lain, dalam hal ini adalah pihak-pihak peduli, khususnya pemerintah. Kenapa pemerintah ? Kenapa tidak difokuskan pada pihak swasta atau kelompok-kelompok tertentu lainnya ? Karena Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah dengan struktur kepemerintahan didalamnya berhubungan langsung dengan segala bentuk kegiatan pemberdayaan dan pelaku pemberdayaan, bukan hanya dalam konteks PNPM-Mandiri Perkotaan, tapi seluruh organisasi dan programnya. Pemerintah juga berperan langsung baik secara kebijakan dan keputusan maupun implementasi di lapangan sesuai dengan komitmen yang disepakati. 

    Salah satu butir permasalahan yang muncul ke permukaan adalah berkurangnya rasa kepedulian, kerelawanan dan partisipasi dari masyarakat. Penyebabnya adalah adanya ego dari sejumlah kalangan masyarakat mengenai keberpihakan dan kemanfaatan program, munculnya perasaan-perasaan sentimentil sebagai bagian dari ego tersebut, adanya dinamika mengenai paradigma dan orientasi masyarakat mengenai stimulan program dalam hal ini adalah dana bantuan program (BLM,BLT dan sejenisnya), dan juga sikap dan sifat dari pemimpin daerah, baik scoup luas maupun skala lebih sempit yang pada dasarnya merupakan simbol panutan masyarakat itu sendiri. Solusi yang ditawarkan ? Pelatihan. Ya, pelatihan untuk pendamping masyarakat, pelatihan untuk masyarakat, pelatihan untuk birokrat sebagai pengusung kebijakan yang dibuat. 

    Kembali pada tema di atas, seberapa besar sih manfaat pelatihan bagi keberlangsungan program, bukan hanya dalam lingkup PNPM, namun seluruh program ? Tidak bisa dibilang sedikit, namun sebenarnya pelaksanaan program bukan sebatas pelatihan penguatan, pelatihan kapasitas dan sejenisnya. Cara meningkatkan animo masyarakat dan pemerintah terhadap berjalannya program juga tidak melulu dengan meletakkan fasilitator dalam posisi sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap stagnannya animo tadi. Pelatihan merupakan bentuk pengisian dan pemulihan peranan, tanggung jawab dan aspek nilai yang terkandung dalam program kepada pelaku pemberdayaan. Ketika akhirnya apa yang didapat dalam pelatihan mengalami kebuntuan dalam pelaksanaannya, maka yang diperlukan adalah kreatifitas, kesabaran, dan dorongan serta motivasi lain. Waktu adalah kata kunci paling berpengaruh dalam segala aktivitas yang ada. Pengelolaan dan manajemen waktu tidak bisa dinafikan begitu saja.

    Tidak bisa disangkal, kebuntuan pendampingan ini (saya istilahkan demikian) seperti lingkaran setan. Begitu stimulan tidak bisa dimiliki semua pihak yang berkepentingan (pemanfaat dan pengelola), akan muncul opini yang diikuti perilaku pragmatis dan acuh tak acuh, lalu terjadi pemisahan dan pengelompokan. Ini menyebabkan melemahnya kekuatan secara kelembagaan dan secara perlahan paradigma turut berubah, di mana pada saat bersamaan terjadi visualisasi yang belum mengena hati masyarakat oleh lembaga pemerintah. Melemahnya organisasi akan menyebabkan berkurangnya spirit kerelawanan, dan perlahan-lahan menjadi redup. Ini tentu akan berpengaruh pada spirit yang dimiliki fasilitator pendamping. Kelanjutannya ? Progres ikut menjadi stagnan.

    Terlepas dari dualisme aspek program, yaitu aspek pemberdayaan dan aspek proyek melalui stimulan yang ada, adalah sangat baik bila keduanya bisa berjalan berdampingan. Namun bila harus mengerjakan salah satu pilihan secara terfokus, akan membutuhkan waktu pula dalam melaksanakan aspek yang satunya. Seperti pepatah sekali menembak dua tiga pulau terlewati, untuk konsep pemberdayaan masyarakat tentunya dibutuhkan waktu yang tidak sedikit agar bagaimana cara membuat pemahaman konsep pemberdayaan (dalam PNPM-Mandiri Perkotaan) benar-benar lekat dan menjadi jiwa masyarakat, dan bagaimana cara meningkatkan serta mengasah nilai-nilai kemanusiaan didalamnya adalah menjadi tugas bersama, tugas dan tanggung jawab semua pihak. Kata kunci perilaku (behaviour) adalah kunci dari semua perubahan yang diinginkan, dan ini kembali kepada diri kita masing-masing. 


    (opini penulis sebagai review dari rangkaian kegiatan Pelatihan Penguatan Fasilitator PNPM-Mandiri Perkotaan OC-2 Propinsi Bengkulu, 11-18 Juni 2012)

    Apa Itu UKM, Serta Bagaimana Cara Meningkatkan Usaha Kecil dan UKM

    June 16, 2012 Add Comment
    Cara Meningkatkan Ekonomi UKM - Dalam beberapa tahun terakhir ini, khususnya sejak akhir tahun 90'an gerakan ekonomi kecil mulai didengungkan. Kelompok dan usaha kecil itu sekarang tenar dengan istilah UKM. Apa sebenarnya UKM itu ? Dan apa saja kriteria usaha yang disebut sebagai UKM ? 


    Cara Meningkatkan Ekonomi UKM


    Apa Itu UKM

    UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri.

    Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”


    Kriteria UKM

    Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut:
    • Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
    • Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah).
    • Milik Warga Negara Indonesia.
    • Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar.
    • Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

    Cara Meningkatkan Usaha UKM

    Cara meningkatkan usaha kecil dan meningkatnya pendapatan ekonomi rumah tangga, diperlukan peran serta semua pihak. Bukan hanya pemerintah saja, tapi juga non pemerintah seperti swasta, lembaga, maupun komunitas. 


    Ada beberapa hal yang bisa diupayakan untuk mendorong UKM, yaitu :

    • Peran serta pengambil kebijakan (dalam rangka kebijakan pajak, kebijakan fiskal dan peraturan-peraturan pemerintah lainnya yang mendorong meningkatnya ekonomi kecil).
    • Melakukan pendampingan terhadap perencanaan dan pengembangan usaha, termasuk di dalamnya pelatihan pembukuan ekonomi sederhana, pelatihan kapasitas dll.
    • Mengikutsertakan pelaku usaha untuk mengikuti seminar dan lokakarya kewirausahaan.
    • Melakukan pelatihan-pelatihan teknologi hasil, mulai dari pengolahan bahan, produksi, penyimpanan, pengemasan, penggunaan alat dan mesin dsb.
    • Penyediaan modal pinjaman bunga ringan. Modal merupakan salah satu aspek yang paling dibutuhkan dalam pengembangan usaha. Dengan adanya kebijakan perbankan yang mendukung kemaslahatan usaha kecil dalam hal bunga yang rendah, para pengusaha kecil akan sangat terbantu. 
    • Pemanfaatan internet untuk promosi dan pemasaran serta penjualan. Adanya internet sangat membantu promosi para pengusaha kecil, karena area jangkauannya sangat luas dan hemat biaya. Tidak perlu lagi jor-joran mencetak spanduk, iklan di koran dsb. 
    Oleh karena itu, agar UKM/UMKM ini berhasil dibutuhkan dukungan dari semua pihak terkait. Masalahnya belum semua lembaga dan aparatur menguasai atau memahami tentang latar belakang UMKM dan strategi serta kebijakannya. Untuk itulah diperlukan pembekalan, misalnya dengan ikut Bimtek. Untuk Bimtek ini bisa mengikutinya di sejumlah lembaga pelatihan, contohnya Pusdiklat Pemendagri.

    Info Bimtek Pusdiklat Pemendagri untuk ASN bisa didapatkan secara luas dan mudah lewat berbagai perangkat. Peserta bisa mengikuti berbagai jenis pelatihan kompetensi, khususnya Diklat UKM/UMKM Pusdiklat Pemendagri.

    Baca Juga :

    Nah, sobat, demikian ulasan kita kali ini tentang apa itu UKM dan bagaimana cara meningkatkan usaha KSM. Semoga bermanfaat. 

    Cara Meningkatkan Usaha Dengan Promosi Budaya

    June 16, 2012 Add Comment
    Cara Meningkatkan Usaha Dengan Promosi Budaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mengupayakan beragam cara untuk memperoleh akses yang lebih besar ke pasar-pasar non-tradisional, seperti Afrika Selatan demi mencapai target pertumbuhan ekspor sebesar 25 persen, tak terkecuali melalui promosi budaya.




    "Pada misi dagang ke Afrika Selatan yang akan dimulai dari tanggal 9 sampai 14 April 2012 nanti, kami (Kemendag) akan melakukan promosi kuliner melalui acara `Indonesia Night` yang akan diselenggarakan di Cape Town," kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamukthi di Jakarta, Rabu.

    Menurut Bayu, acara tersebut akan dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat di Afrika Selatan serta komunitas Cape Malay atau warga negara Afrika Selatan keturunan Melayu.

    "Komunitas Cape Malay terdiri dari 1,5 juta orang, dan mereka memiliki kesamaan budaya dengan Indonesia, sehingga diharapkan mampu meningkatkan permintaan terhadap produk Indonesia ke Afrika Selatan," kata Bayu.

    Rencananya, acara tersebut akan mengusung konsep diplomasi kultur dan kuliner dengan menyajikan beragam kuliner nusantara yang diiringi dengan pertunjukan musik khas Indonesia.

    "Acara `Indonesia Night` juga akan dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Afrika Selatan mengenai Makassar, yang dikenal sebagai tanah kelahiran Syekh Yusuf atau penyebar agama Islam di Afrika Selatan," kata Bayu.

    Bayu mengungkapkan bahwa pada kesempatan tersebut, pihaknya akan mengundang tokoh masyarakat Cape Malay untuk melakukan wisata religi yang bertepatan dengan pelaksanaan program `Visit South Sulawesi 2012` dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

    "Kami berharap cara ini akan mampu meningkatkan people-to-people contact yang tentunya akan berdampak positif terhadap kemajuan interaksi business-to-business atau `B-to-B`," kata Bayu.

    Kegiatan penetrasi ke pasar Afrika Selatan akan dilakukan secara berkesinambungan, sambung Bayu. Setelah misi dagang itu, pihaknya telah berencana untuk turut berpartisipasi dalam pameran `Africa Big Seven 2012` yang akan diselenggarakan pada 15-17 Juli 2012 di Johannesburg.

    Bayu menambahkan, sektor lain yang ingin digarap lebih lanjut oleh Kemendag adalah industri pariwisata Indonesia. "Kami akan melakukan promosi pariwisata untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Afrika ke Indonesia," kata Bayu.

    Bayu menuturkan hal tersebut kemungkinan dapat diawali dengan konsep wisata religi yang memanfaatkan kedekatan religius dan emosional masyarakat Cape Malay di Cape Town dengan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Goa, yang menjadi asal muasal Syekh Yusuf.

    sumber : Antara News

    Cara Untuk Membuat Sirsak Menjadi Obat Kanker

    June 16, 2012 Add Comment
    Cara Membuat Sirsak Menjadi Obat KankerTidak dipungkiri, bahwa rekomendasi sirsak sebagai buah yang memiliki kemampuan untuk membunuh dan atau mencegah kanker cukup mengejutkan.

    Yang lebih mengejutkan adalah bahwa fakta telah dilakukannya lebih dari 20 uji coba mengenai sirsak untuk memastikan bahwa khasiatnya memang nyata sejak tahun 70'an, yang notabene pada era tersebut kemoterapi kanker baru atau bahkan sedang dijalankan oleh sejumlah media klinis dan rumah sakit di beberapa belahan dunia ! .


    Graviola, bahasa lain dari ekstrak sirsak ini telah lama dikonsumsi oleh masyarakat pedalaman hutan Amazone. Oleh masyarakat setempat buah ini dianggap sebagai obat dewa atau obat kehidupan karena khasiatnya yang mampu menyembuhkan beberapa penyakit. 

    Ternyata sirsak untuk diambil khasiatnya bukan hanya berasal dari buah, namun juga daunnya. Bahkan penelitian tersebut lebih merekomendasikan daun sirsak yang sudah dewasa atau sudah pernah berbuah. Khasiatnya bukan hanya untuk kanker, tapi juga untuk beberapa keluhan atau penyakit lainnya, diantaranya polip, sinusitis, ginjal, rematik, sakit pinggang, liver, darah tinggi, eksim dan uritritis (kandung kemih). Cara pengolahan bagian tanaman sirsak untuk dijadikan obat untuk beberapa penyakit juga berbeda-beda, ada yang hanya direbus, dijadikan kolak, atau dibuat jadi berbentuk tuh atau jamu. Cara-cara tradisional ini bila dikelola dengan pengetahuan dan teknologi yang baik (dalam hal manajemen pengelolaan dan fasilitas) akan memiliki peluang. Potensi bisnis dari khasiat sirsak dan cara pengelolaannya mengatasi kanker menjanjikan peningkatan penghasilan dan perbaikan ekonomi dari sisi kesejahteraan, dan juga memiliki manfaat kesehatan bagi banyak orang.

    Berikut adalah beberapa contoh cara pengelolaan tanaman sirsak :

    Pengobatan Kanker
    Sirsak diyakini bisa melawan sel-sel kanker terutama 12 jenis kanker mematikan, diantaranya kanker payudara, kanker usus besar, kanker paru-paru, dan kanker pankreas. Untuk membunuh kanker, caranya adalah 10 lembar daun sirsak yg tua direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas, minum 2 kali per hari selama 2 minggu. Daun sirsak ini katanya sifatnya seperti kemoterapi, bahkan lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh sel sel yang tumbuh abnormal dan membiarkan sel sel yang tumbuh normal.
    Untuk mencegah terjadinya kanker, maka yang dikonsumsi adalah daging buahnya dengan rutin.  
    Sakit Pinggang
    20 lembar daun sirsak, direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal3 gelas, diminum 1 kali sehari 3/4 gelas.
    Bayi Mencret
    Buah-sirsak yang sudah masak. Buah sirsak diperas dan disaring untuk diambil airnya, diminumkan pada bayi yang mencret sebanyak 2-3 sendok makan.
    Ambeien
    Buah sirsak yang sudah masak. Peras untuk diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
    Bisul
    Daun sirsak yang masih muda secukupnya, tempelkan di tempat yang terkena bisul.
    Anyang-anyangen
    Sirsak setengah masak dan gula pasir secukupnya. Sirsak dikupas dan direbus dengan gula bersama-sama dengan air sebanyak 2 gelas, disaring dan diminum.
    Sakit Kandung Air Seni
    Buah sirsak setengah masak, gula dan garam secukupnya. Semua bahan tersebut dimasak dibuat kolak. Dimakan biasa, dan dilakukan secara rutin setiap hari selama 1 minggu berturut-turut.
    Penyakit Liver
    Puasa makanan lain, hanya minum juice sirsak selama 1 minggu
    Eksim dan Rematik
    Tumbuk daun sirsak sampai halus dan tempelkan di bagian yang sakit
    Katarak
    Bunga sirsak dapat digunakan utk menyembuhkan katarak tapi bagaimana penggunaannya belum diketahui lebih detil.

    Itulah beberapa cara pengelolaan tanaman sirsak, mulai dari akar hingga daun. Mungkin di masa datang akan ada cara-cara baru dan juga khasiat-khasiat baru untuk melawan berbagai jenis penyakit yang selama ini belum diketahui cara ampuh untuk mencegah atau mengobatinya.

    Sumber :
    The Graviola Tree - Miraculous Secret
    KANDUNGAN, KHASIAT DAN MANFAAT DAUN & BUAH SIRSAK
    Khasiat Sirsak 10.000X Lebih Kuat dari Kemoterapi Kanker
    Khasiat Sirsak Dalam Penyembuhan Kanker